Don't Show Again Yes, I would!

Jurusan yang Mulai Kurang Disukai Ini 10 Daftarnya

Ilustrasi kerja, ilustrasi jurusan kuliah yang mulai kurang disukai

Pelajarpro.id – Memilih kuliah bukan cuma soal masuk kampus impian. Jurusan yang mulai kurang disukai kini jadi perhatian karena sejumlah bidang dinilai menghadapi tantangan serius, mulai dari persaingan kerja ketat, gaji awal yang tidak selalu menarik, sampai perubahan industri akibat teknologi.

Buat kamu yang sedang menimbang pilihan setelah lulus SMA/SMK, daftar ini bukan untuk menakut-nakuti. Justru, ini bisa jadi bahan evaluasi agar kamu tidak memilih prodi hanya karena ikut tren, gengsi, atau saran orang lain tanpa memahami kondisi pasar kerja.

Daftar Jurusan yang Mulai Kurang Disukai

Sejumlah jurusan yang dulu dianggap aman kini mulai dipertanyakan daya saingnya. Bukan berarti lulusannya tidak punya masa depan, tetapi jalur kariernya semakin menuntut kemampuan tambahan.

Berikut daftar jurusan yang mulai kurang disukai berdasarkan topik yang ramai dibahas:

  1. Administrasi Bisnis Umum dan MBA
  2. Ilmu Komputer
  3. Teknik Mesin
  4. Akuntansi
  5. Biokimia
  6. Psikologi jenjang S1
  7. Bahasa Inggris dan Humaniora
  8. Sosiologi dan Ilmu Sosial
  9. Sejarah
  10. Filsafat

Daftar ini perlu dibaca dengan hati-hati. Beberapa jurusan seperti Ilmu Komputer, Akuntansi, dan Teknik Mesin masih punya peluang kerja, tetapi persaingannya berubah. Tantangannya bukan sekadar “jurusan ini jelek”, melainkan skill lama tidak lagi cukup.

Baca juga: Syarat Seleksi Mandiri Prestasi Istimewa UPI 2026

Perubahan Pasar Kerja Membuat Jurusan Populer Ikut Terdampak

Salah satu hal menarik dari daftar ini adalah munculnya jurusan yang selama ini dianggap kuat, seperti Ilmu Komputer, Akuntansi, dan Teknik Mesin. Artinya, jurusan populer pun tidak kebal dari perubahan pasar kerja.

Di bidang Ilmu Komputer, peluang kerja memang masih besar. Namun, perkembangan teknologi bergerak sangat cepat. Mahasiswa yang hanya mengandalkan materi kuliah dasar bisa tertinggal jika tidak memperbarui kemampuan di bidang AI, cloud computing, data, keamanan siber, atau pengembangan produk digital.

Akuntansi juga menghadapi tekanan dari software otomatisasi dan AI. Banyak pekerjaan pencatatan, input data, hingga laporan dasar kini bisa dibantu sistem. Karena itu, lulusan akuntansi perlu naik kelas menjadi analis, auditor berbasis teknologi, konsultan pajak, atau spesialis keuangan digital.

Teknik Mesin pun mengalami perubahan karena otomatisasi dan pergeseran industri manufaktur. Kompetensi teknis tetap penting, tetapi lulusan perlu memahami robotik, energi terbarukan, desain berbasis software, dan sistem produksi modern.

Jurusan Sosial dan Humaniora Menghadapi Tantangan Jalur Karier

Jurusan seperti Bahasa Inggris, Humaniora, Sosiologi, Ilmu Sosial, Sejarah, dan Filsafat sering dianggap punya tantangan karena jalur kariernya tidak selalu langsung terlihat. Berbeda dengan kedokteran yang mengarah ke dokter atau pendidikan yang mengarah ke guru, jurusan humaniora membutuhkan strategi karier yang lebih fleksibel.

Masalah utamanya bukan pada ilmunya. Justru, kemampuan seperti berpikir kritis, menulis, riset, memahami manusia, membaca konteks sosial, dan komunikasi sangat dibutuhkan di banyak sektor.

Namun, kemampuan tersebut perlu dikemas menjadi skill kerja yang konkret. Misalnya, lulusan sejarah bisa masuk ke riset konten, museum, arsip digital, penulisan naskah, jurnalisme data, atau edukasi publik. Lulusan sosiologi bisa masuk ke riset pasar, community development, kebijakan publik, HR, dan social impact.

Tanpa arah yang jelas, lulusan bidang ini bisa kesulitan bersaing. Dengan portofolio dan skill tambahan, peluangnya tetap terbuka.

Psikologi S1 dan Biokimia Butuh Pendidikan atau Keahlian Lanjutan

Psikologi jenjang S1 masuk dalam daftar karena banyak jalur profesional di bidang ini membutuhkan pendidikan lanjutan. Untuk menjadi psikolog, misalnya, lulusan tidak cukup berhenti di S1. Mereka harus melanjutkan ke jenjang profesi atau studi lanjutan sesuai ketentuan.

Meski begitu, lulusan psikologi tetap bisa masuk ke bidang HR, rekrutmen, training, riset konsumen, konseling non-klinis, atau pengembangan organisasi. Kuncinya adalah memahami batas kewenangan profesi dan membangun pengalaman sejak kuliah.

Sementara itu, Biokimia dinilai cukup akademis dan tidak selalu memberi jalur kerja langsung bagi lulusan baru. Banyak peluang terbaiknya berada di laboratorium, riset, farmasi, kesehatan, pangan, atau pendidikan lanjutan.

Bagi mahasiswa Biokimia, kemampuan teknis seperti analisis laboratorium, bioinformatika, riset, quality control, dan pemahaman regulasi industri bisa menjadi pembeda di pasar kerja.

Penyebab Jurusan Kuliah Mulai Kehilangan Daya Tarik

Ada beberapa alasan mengapa jurusan yang mulai kurang disukai makin sering dibahas calon mahasiswa dan orang tua. Faktor utamanya bukan cuma soal gaji, tetapi juga perubahan cara industri merekrut pekerja.

Beberapa penyebab yang paling menonjol:

  • Otomatisasi dan AI menggantikan pekerjaan administratif atau teknis berulang.
  • Persaingan lulusan semakin ketat karena banyak kampus membuka prodi serupa.
  • Skill cepat usang, terutama di bidang teknologi dan bisnis.
  • Jalur karier kurang jelas untuk beberapa jurusan sosial-humaniora.
  • Kebutuhan industri makin spesifik, bukan sekadar gelar umum.
  • Portofolio lebih dilihat dibanding ijazah saja di banyak bidang kreatif dan digital.

Kondisi ini membuat mahasiswa harus lebih aktif. Kuliah saja tidak cukup jika tidak dibarengi praktik, magang, sertifikasi, proyek nyata, dan kemampuan komunikasi.

Jurusan Ini Tidak Otomatis Buruk

Label “kurang disukai” tidak sama dengan “tidak berguna”. Setiap jurusan tetap punya nilai jika mahasiswa mampu menghubungkannya dengan kebutuhan zaman.

Contohnya, Filsafat sering dianggap sulit langsung menghasilkan pekerjaan. Namun, kemampuan analisis, logika, etika, dan argumentasi sangat relevan untuk bidang kebijakan publik, riset, hukum, komunikasi strategis, dan teknologi berbasis etika AI.

Begitu juga Bahasa Inggris dan Humaniora. Di tengah ledakan konten digital, kemampuan bahasa, storytelling, kurasi informasi, dan pemahaman budaya tetap punya tempat. Tantangannya adalah mengubah kemampuan akademik menjadi output yang bisa dinilai industri.

Jadi, pertanyaan pentingnya bukan hanya “jurusan ini masih laku atau tidak”, tetapi apa skill tambahan yang membuat kamu berbeda dari lulusan lain.

Baca juga: Prodi S1 Paling Diminati di SNBT 2026 Ini 3 Besarnya

Skill Tambahan yang Membuat Lulusan Lebih Kompetitif

Agar tetap kuat di pasar kerja, mahasiswa dari jurusan apa pun perlu membangun kombinasi skill. Ini berlaku juga untuk jurusan yang mulai kurang disukai.

Beberapa skill yang bisa memperkuat daya saing:

  1. Data literacy
    Kemampuan membaca, mengolah, dan menyajikan data kini dibutuhkan di bisnis, pendidikan, media, riset, dan pemerintahan.
  2. AI tools dan otomasi kerja
    Mahasiswa perlu memahami cara memakai AI sebagai alat bantu, bukan sekadar takut tergantikan.
  3. Komunikasi profesional
    Menulis email, presentasi, negosiasi, dan membuat laporan yang jelas masih sangat dihargai perusahaan.
  4. Portofolio digital
    Proyek nyata, tulisan, desain, riset, aplikasi, atau studi kasus bisa membuat lulusan lebih mudah dinilai.
  5. Kemampuan adaptasi
    Dunia kerja berubah cepat. Lulusan yang mau belajar ulang punya peluang lebih besar bertahan.

Alternatif Bidang yang Dinilai Lebih Relevan

Beberapa bidang kini dianggap lebih adaptif karena sejalan dengan kebutuhan industri. Bukan berarti semua orang harus masuk jurusan tersebut, tetapi ini bisa jadi referensi untuk melihat arah pasar kerja.

Bidang seperti data science, AI dan machine learning, ilmu kesehatan, lingkungan, pemasaran digital, serta kewirausahaan berbasis teknologi banyak disebut punya prospek menarik. Alasannya sederhana: bidang-bidang ini bersinggungan langsung dengan kebutuhan masa depan.

Namun, memilih jurusan tetap harus disesuaikan dengan minat, kemampuan, biaya, dan gaya belajar kamu. Jurusan yang terlihat menjanjikan pun bisa terasa berat jika kamu tidak punya ketertarikan dasar.

Pilihan terbaik adalah mencari titik tengah antara minat pribadi, kebutuhan industri, dan peluang pengembangan skill.

Cara Memilih Jurusan agar Tidak Salah Arah

Sebelum menentukan pilihan, jangan hanya melihat daftar jurusan populer atau viral. Kamu perlu memeriksa gambaran utuhnya.

Coba cek beberapa hal berikut:

  • Mata kuliah inti yang akan dipelajari selama kuliah.
  • Profesi yang umum ditempuh lulusannya.
  • Skill teknis yang dibutuhkan industri.
  • Peluang magang dan portofolio.
  • Kebutuhan pendidikan lanjutan.
  • Prospek kerja di daerah atau negara tempat kamu ingin berkarier.

Kamu juga bisa membaca lowongan kerja untuk posisi impian. Dari sana, kamu akan tahu skill apa yang paling sering diminta perusahaan. Cara ini lebih realistis dibanding hanya bertanya “jurusan apa yang gajinya besar”.

Penutup

Daftar jurusan yang mulai kurang disukai sebaiknya dibaca sebagai sinyal, bukan vonis. Dunia kerja berubah, dan beberapa jurusan memang menghadapi tekanan lebih besar akibat AI, otomatisasi, persaingan lulusan, serta kebutuhan industri yang makin spesifik.

Namun, masa depan karier tidak ditentukan oleh nama jurusan saja. Lulusan yang punya skill relevan, pengalaman nyata, portofolio kuat, dan kemauan belajar ulang tetap bisa unggul, bahkan dari jurusan yang dianggap kurang menjanjikan. Bagi calon mahasiswa, keputusan paling bijak adalah memilih jurusan dengan mata terbuka: pahami risikonya, siapkan strateginya, lalu bangun keunggulan sejak semester awal.

Share:

Admin

Pelajar Pro - Seorang Content Writer dan Content Creator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *