Pelajarpro.id – Tips ikut olimpiade internasional adalah memulai dari OSN, berlatih secara konsisten, memperbanyak bank soal, dan mencoba materi yang lebih sulit dari target kompetisi. Peraih medali OSN nasional mengikuti Pelatnas, kemudian empat siswa berperingkat teratas berpeluang menjadi delegasi Indonesia sesuai bidang olimpiadenya.
Mengikuti olimpiade akademik internasional menjadi impian banyak pelajar, mulai dari jenjang SD hingga SMA. Namun, kesempatan mewakili Indonesia tidak diperoleh hanya dengan menguasai materi pelajaran di kelas.
Siswa harus melewati tahapan seleksi berjenjang dan membangun kebiasaan latihan yang konsisten. Pengalaman Nathan Allan dan Muhammad Zhafif memperlihatkan bahwa keberhasilan dapat dibangun melalui pola latihan berbeda, tetapi sama-sama menuntut kedisiplinan.
Jalur OSN hingga Menjadi Delegasi Olimpiade Internasional
Sebelum menerapkan berbagai tips ikut olimpiade internasional, siswa perlu memahami jalur seleksinya. Berdasarkan sumber, proses tersebut dimulai melalui Olimpiade Sains Nasional atau OSN.
OSN diselenggarakan melalui beberapa tingkat, yaitu:
- Tingkat sekolah.
- Tingkat kabupaten atau kota.
- Tingkat provinsi.
- Tingkat nasional.
Siswa yang memperoleh medali pada OSN nasional selanjutnya mengikuti Pelatihan Nasional atau Pelatnas. Dari proses tersebut, empat siswa dengan peringkat teratas dapat mengikuti olimpiade internasional sesuai bidangnya.
Artinya, siswa perlu menghadapi setiap tingkat sebagai bagian dari proses yang berkelanjutan. Target pertama tidak harus langsung menjadi delegasi internasional, melainkan menuntaskan seleksi yang sedang dihadapi sambil meningkatkan kemampuan untuk tahapan berikutnya.
Informasi tahapan tersebut disampaikan dalam laporan Kompas.com mengenai persiapan olimpiade internasional.
Baca juga: 9 Tips Memilih Mata Kuliah Pilihan agar Tidak Salah
Konsistensi Menjadi Kunci Persiapan Olimpiade
Nathan Allan, siswa SMA Kolese Kanisius Jakarta, menempatkan konsistensi sebagai salah satu bagian terpenting dalam persiapan olimpiade. Ia berhasil menjadi delegasi Indonesia untuk International Olympiad in Informatics atau IOI 2025 dan 2026.
Pola latihan Nathan tidak selalu berlangsung lama dalam satu sesi. Ketika mempunyai waktu luang, ia menyempatkan diri mengerjakan sekitar satu hingga dua soal.
Durasi latihan hariannya berkisar antara 30 menit hingga satu jam. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa rutinitas tidak selalu harus diwujudkan melalui satu sesi belajar yang sangat panjang.
Hal yang ditekankan adalah menjaga latihan tetap berjalan setiap hari. Dengan pola tersebut, siswa tidak hanya belajar ketika jadwal seleksi sudah dekat atau saat mendapatkan tugas dari pembina.
Strategi Nathan dapat diterjemahkan menjadi pola sederhana:
- Tentukan waktu latihan yang realistis.
- Kerjakan satu atau dua soal ketika memiliki waktu luang.
- Pertahankan rutinitas setiap hari.
- Jangan mengukur kualitas latihan hanya dari lamanya sesi belajar.
- Gunakan hasil latihan untuk mengenali bagian yang masih sulit.
Pola ini terutama relevan bagi siswa yang harus membagi waktu antara sekolah, tugas, dan persiapan kompetisi.
Menjadikan Latihan Soal sebagai Hobi
Nathan juga memandang latihan sebagai hobi, bukan sekadar kewajiban. Cara pandang tersebut membuat kegiatan mengerjakan soal dapat dilakukan saat ada waktu luang tanpa selalu menunggu jadwal belajar formal.
Ia mempersiapkan diri melalui pembelajaran mandiri, sejalan dengan kebiasaan yang ditanamkan pihak sekolah. Untuk persiapan IOI, Nathan memperbanyak latihan menggunakan berbagai bank soal.
Salah satu sumber soal yang digunakannya adalah Codeforces. Ia juga memperoleh soal baru dari para pembina selama mengikuti Pelatnas dan dari Pusat Prestasi Nasional atau Puspresnas.
Dari pengalaman tersebut, latihan mandiri dan bimbingan pembina bukan dua pendekatan yang saling menggantikan. Siswa dapat membangun rutinitas sendiri, kemudian menggunakan materi dari pembina untuk memperluas variasi soal yang dikerjakan.
Bank soal juga tidak seharusnya hanya dikumpulkan. Nilainya muncul ketika siswa benar-benar mencoba menyelesaikan soal, menemukan kesulitan, dan kembali mempelajari materi yang belum dikuasai.
Berlatih Menyelesaikan Soal Olimpiade yang Sulit
Strategi berbeda diterapkan oleh Muhammad Zhafif, siswa SMAS Kharisma Bangsa. Ia menyarankan pelajar yang ingin menjadi delegasi Indonesia agar terus berusaha menyelesaikan soal-soal sulit.
Zhafif tidak hanya mempelajari soal pada tingkat kompetisi yang sedang ditargetkan. Ia berusaha menyelesaikan materi olimpiade satu tingkat lebih tinggi.
Jika targetnya berada di tingkat provinsi atau nasional, misalnya, ia berupaya mempelajari materi hingga tingkat internasional. Tujuannya adalah membangun kemampuan lebih awal sehingga materi pada target utama terasa lebih mudah dihadapi.
Kebiasaan tersebut juga membantunya menikmati proses Pelatnas karena berbagai materi telah dipelajari sebelumnya. Strategi ini menunjukkan pentingnya melakukan akselerasi dari diri sendiri, bukan hanya menunggu materi diberikan saat pelatihan.
Namun, pola belajar Zhafif memiliki intensitas yang jauh lebih tinggi. Berdasarkan sumber, ia telah lama berusaha belajar selama 12 jam sehari dan menyelesaikan soal satu tingkat di atas kompetisi yang diikutinya.
Angka tersebut merupakan kebiasaan pribadi Zhafif, bukan standar durasi yang disebut wajib untuk seluruh peserta. Insight utamanya terletak pada kemauan mendalami materi dan berhadapan dengan soal yang lebih sulit.
Dua Skenario Latihan untuk Menghadapi Kompetisi
Saat berlatih, Zhafif membayangkan dirinya berada dalam dua skenario kompetisi. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada cara mengevaluasi diri.
Skenario pertama adalah membayangkan dirinya sedang menyelesaikan soal dalam perlombaan. Dengan cara ini, latihan ditempatkan dalam konteks kompetisi yang ingin dihadapi.
Skenario kedua adalah membayangkan dirinya gagal dalam perlombaan. Gambaran kegagalan tersebut digunakan sebagai dorongan untuk kembali belajar dan memperbaiki kekurangan.
Dua skenario itu membentuk siklus latihan:
- Mencoba menyelesaikan soal seperti dalam kompetisi.
- Membayangkan hasil apabila kemampuan belum mencukupi.
- Mengenali bagian yang masih lemah.
- Kembali belajar dan memperbanyak latihan.
- Mempersiapkan diri lebih baik untuk kesempatan berikutnya.
Pendekatan ini menempatkan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai titik akhir. Siswa tetap diarahkan untuk memperbaiki kemampuan melalui latihan berikutnya.
Tujuh Tips Ikut Olimpiade Internasional yang Bisa Diterapkan
Pengalaman Nathan dan Zhafif dapat diringkas menjadi tujuh tips ikut olimpiade internasional. Meskipun intensitas latihan mereka berbeda, keduanya menunjukkan pentingnya inisiatif pribadi.
Berikut strategi yang dapat dipetik:
- Pahami tahapan seleksi. Mulailah dari OSN tingkat sekolah, lalu persiapkan diri menghadapi tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
- Bangun konsistensi. Jadwalkan latihan secara rutin dan jangan hanya belajar menjelang seleksi.
- Manfaatkan waktu luang. Mengerjakan satu atau dua soal tetap menjadi bagian dari proses latihan.
- Gunakan berbagai bank soal. Nathan menggunakan Codeforces serta soal dari pembina Pelatnas dan Puspresnas.
- Pelajari soal yang sulit. Jangan langsung menghindari soal ketika penyelesaiannya tidak terlihat mudah.
- Belajar satu tingkat lebih tinggi. Zhafif mempersiapkan materi yang berada di atas target kompetisinya.
- Lakukan evaluasi melalui simulasi. Bayangkan kondisi lomba dan kemungkinan gagal untuk mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.
Tidak ada satu pola durasi yang disebut cocok untuk semua siswa. Nathan menjaga latihan sekitar 30 menit sampai satu jam setiap hari, sedangkan Zhafif menjalani kebiasaan belajar hingga 12 jam sehari.
Karena itu, pelajaran utamanya bukan meniru jumlah jam secara mentah. Hal yang dapat diterapkan adalah konsistensi Nathan, keberanian Zhafif menghadapi soal sulit, dan kemauan keduanya untuk belajar secara mandiri.
Perspektif Akhir
Perjalanan menuju olimpiade internasional berlangsung melalui seleksi berjenjang. Kemampuan siswa dibangun sejak OSN, diperdalam selama Pelatnas, lalu diuji dalam penentuan delegasi Indonesia.
Pengalaman Nathan Allan membuktikan pentingnya latihan rutin, meskipun berlangsung dalam sesi yang relatif singkat. Sementara itu, pengalaman Muhammad Zhafif memperlihatkan manfaat mendalami soal sulit dan mempersiapkan materi melampaui target kompetisi.
Keduanya menegaskan pesan yang sama: kesempatan menjadi delegasi tidak hanya ditentukan oleh bakat. Konsistensi, inisiatif belajar, dan keberanian menghadapi soal sulit menjadi bagian penting dari proses panjang menuju olimpiade internasional.





