Pelajarpro.id – Menyiapkan mental mahasiswa baru sama pentingnya dengan mempersiapkan kebutuhan akademik. Lingkungan, teman, pola belajar, dan tanggung jawab yang berbeda dapat membuat masa peralihan dari sekolah ke perguruan tinggi terasa menantang.
Pakar Psikologi Perkembangan dan Pendidikan Universitas Airlangga, Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si., Psikolog, menilai penyesuaian terhadap lingkungan baru sebagai tantangan mental yang paling sering dihadapi mahasiswa. Kemampuan beradaptasi pun menjadi salah satu fondasi keberhasilan belajar di perguruan tinggi.
Mental Mahasiswa Baru Diuji oleh Perubahan Lingkungan
Dunia perkuliahan membawa pola kehidupan yang berbeda dari sekolah. Mahasiswa bertemu teman-teman baru, memasuki suasana akademik yang belum dikenal, dan dituntut mengatur banyak hal secara lebih mandiri.
Menurut Dewi, kegagalan menyesuaikan diri dapat menjadi sumber tantangan mental bagi mahasiswa baru. Karena itu, proses adaptasi tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan kecil atau sekadar urusan mencari teman.
Adaptasi merupakan bagian dari kesiapan belajar. Mahasiswa yang mulai mengenali lingkungan dan pola kehidupan kampus akan memiliki pijakan lebih baik dalam menjalani semester pertama.
Proses ini tidak harus terjadi secara instan. Mahasiswa dapat mengawalinya dengan banyak mendengar, bertanya, dan mengamati lingkungan sebelum menentukan cara berinteraksi yang sesuai.
Baca juga: 7 Tips Ikut Olimpiade Internasional dari Delegasi RI
Prestasi Kuliah Tidak Hanya Ditentukan oleh Kepintaran
Nilai akademik memang berpengaruh terhadap perjalanan kuliah, tetapi bukan satu-satunya modal. Pembelajaran di perguruan tinggi juga melibatkan kemampuan sosial-emosional dan perilaku.
Mahasiswa dituntut memiliki tanggung jawab, kemandirian, serta kemampuan mengelola diri. Dengan kata lain, kecerdasan akademik perlu berjalan bersama kesiapan menghadapi perubahan dan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.
Kemandirian tersebut terlihat dalam berbagai aktivitas perkuliahan, termasuk mengenali lingkungan, mencari informasi, dan menentukan sumber dukungan. Mahasiswa tidak bisa selalu menunggu orang lain memberi arahan seperti ketika masih bersekolah.
Persiapan mental mahasiswa baru karena itu perlu mencakup dua sisi sekaligus, yakni kesiapan mengikuti pembelajaran dan kesiapan berinteraksi dalam lingkungan sosial kampus.
Membangun Pertemanan Membantu Proses Adaptasi
Dewi menyarankan mahasiswa baru mulai mencari teman dan membangun keterhubungan sosial sejak awal. Interaksi dengan orang yang mempunyai minat serupa dapat menumbuhkan rasa nyaman di lingkungan baru.
Teman juga dapat menjadi sumber dukungan ketika mahasiswa mengalami kecemasan atau stres. Dukungan ini bukan berarti seluruh masalah harus diselesaikan oleh teman, tetapi mahasiswa memiliki orang yang dapat diajak berbicara dan bertukar pengalaman.
Salah satu cara memperluas pertemanan adalah bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa atau UKM. Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dari latar belakang berbeda yang mempunyai kesamaan minat.
Meski demikian, mahasiswa tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua kegiatan. Pilih aktivitas yang paling sesuai dengan minat dan memberi ruang untuk bertumbuh tanpa mengabaikan tanggung jawab akademik.
Tujuh Langkah Menyiapkan Mental Sebelum Kuliah
Saran psikolog Unair dapat diterapkan melalui beberapa langkah berikut:
- Kenali lingkungan secara bertahap. Perbanyak mendengar, bertanya, dan mengamati agar kamu memahami kebiasaan serta pola komunikasi di kampus.
- Mulai berkenalan dengan teman. Jangan menunggu selalu disapa lebih dahulu karena hubungan sosial dapat membantu proses adaptasi.
- Ikuti kegiatan sesuai minat. UKM bisa menjadi ruang untuk menemukan teman dengan ketertarikan serupa.
- Gunakan media sosial secara bijak. Kamu tidak harus mengetahui atau mengikuti seluruh informasi yang beredar.
- Terapkan JOMO. Joy of missing out berarti tetap merasa tenang meskipun tidak selalu mengikuti setiap tren atau aktivitas.
- Kenali dosen pembimbing akademik. Bangun komunikasi dengan dosen dan teman-teman yang berada dalam kelompok bimbingan yang sama.
- Ketahui layanan pendampingan kampus. Informasi tentang layanan mahasiswa umumnya dapat dikenali sejak kegiatan pengenalan kehidupan kampus.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa persiapan mental mahasiswa baru dapat dimulai melalui tindakan sederhana. Fokusnya bukan menghilangkan seluruh kekhawatiran, melainkan membangun cara menghadapi perubahan dengan dukungan yang tepat.
Mengelola FOMO dan Arus Informasi Kampus
Media sosial memungkinkan mahasiswa menerima informasi dengan cepat, tetapi juga dapat memunculkan fear of missing out atau FOMO. Mahasiswa mungkin merasa harus mengikuti setiap kegiatan, percakapan, atau perkembangan yang terlihat di linimasa.
Dewi menyarankan mahasiswa menerapkan joy of missing out atau JOMO. Sikap ini membantu seseorang tetap tenang saat tidak mengikuti seluruh informasi yang beredar.
Mahasiswa juga dianjurkan mengutamakan informasi dari kanal resmi universitas. Langkah tersebut mengurangi risiko kebingungan akibat informasi yang belum pasti atau tidak memiliki sumber jelas.
Ketika kecemasan mulai muncul, mahasiswa dapat melakukan self-talk atau berbicara kepada diri sendiri secara terarah. Cara ini digunakan untuk membantu menenangkan diri dan melihat situasi dengan lebih objektif.
Dukungan Keluarga dan Dosen Tetap Dibutuhkan
Menjadi mahasiswa mandiri bukan berarti harus menghadapi seluruh persoalan sendirian. Dosen pembimbing akademik, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan kampus dapat membentuk jaringan pendukung selama masa adaptasi.
Mahasiswa sebaiknya mengenal dosen pembimbing akademiknya dan menjaga komunikasi dengan teman dalam kelompok bimbingan. Dosen pembimbing dapat menjadi salah satu pihak yang dikenal mahasiswa ketika menghadapi persoalan terkait perjalanan perkuliahan.
Komunikasi dengan orang tua juga tetap dibutuhkan. Dewi menyarankan mahasiswa menyampaikan perkembangan kuliah secara objektif, sehingga keluarga memperoleh gambaran yang sesuai mengenai keadaan mahasiswa.
Jaringan dukungan tersebut berperan dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa. Kehadiran orang yang dapat dipercaya membuat mahasiswa tidak harus memendam setiap kesulitan seorang diri.
Layanan Kampus Dapat Digunakan Saat Masalah Berlanjut
Kesulitan beradaptasi dapat memerlukan pendampingan ketika berlangsung berkepanjangan dan menimbulkan stres. Dalam kondisi tersebut, mahasiswa perlu mengenali layanan bantuan yang tersedia di kampusnya.
Khusus di Unair, layanan yang disebutkan meliputi:
- Pusat Layanan Kesehatan atau PLK
- HELP CENTER
- Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi atau PPKPT
Informasi mengenai layanan tersebut dapat diperoleh sejak Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru atau PKKMB. Mahasiswa baru sebaiknya menyimpan informasi layanan, prosedur, dan kanal kontak yang diperkenalkan selama kegiatan tersebut.
Menggunakan layanan kampus bukan tanda ketidakmampuan. Langkah itu merupakan bentuk pengelolaan diri ketika dukungan biasa belum cukup membantu mahasiswa menghadapi stres atau kesulitan adaptasi.
Penutup
Kesiapan mental mahasiswa baru dibangun melalui kemampuan menyesuaikan diri, menjalin relasi, mengelola informasi, dan mengenali sumber bantuan. Prestasi akademik tetap penting, tetapi keberhasilan kuliah juga membutuhkan kemandirian dan keterampilan sosial-emosional.
Masa adaptasi sebaiknya diperlakukan sebagai proses belajar, bukan ujian untuk membuktikan bahwa kamu harus langsung mampu mengatasi semuanya sendiri. Mahasiswa yang mau mendengar, bertanya, dan menggunakan dukungan secara tepat memiliki bekal lebih kuat untuk berkembang selama kuliah.





