Pelajarpro.id – Jutaan pelajar Iran kini harus beradaptasi dengan kenyataan pahit: sekolah di Iran tutup imbas perang yang terus meluas, dan ruang kelas berganti layar televisi atau koneksi internet yang tidak stabil. Sejak 21 April 2026, Kementerian Pendidikan Iran secara resmi menghentikan seluruh aktivitas belajar tatap muka di semua jenjang pendidikan di seluruh negeri.
Keputusan ini bukan sekadar kebijakan darurat biasa. Di baliknya, ada lebih dari 640 bangunan sekolah yang rusak akibat serangan udara, ratusan ribu siswa yang terancam kehilangan akses belajar, dan satu pertanyaan besar: seberapa siap sistem pendidikan Iran menghadapi krisis ini?
Kebijakan Darurat yang Mengubah Wajah Pendidikan Iran
Pengumuman dari Kementerian Pendidikan Iran datang singkat namun berdampak luar biasa. “Hingga pemberitahuan lebih lanjut, tidak akan ada kelas tatap muka di sekolah-sekolah di seluruh negeri,” demikian pernyataan resmi yang dilaporkan oleh Deutsche Welle pada 23 April 2026.
Kebijakan ini berlaku untuk semua jenis sekolah dan semua tingkatan kelas tanpa terkecuali. Pemerintah Iran menyebut kondisi ini sebagai respons langsung terhadap situasi keamanan yang tidak menentu pasca berakhirnya gencatan senjata yang rapuh.
Ini bukan pertama kalinya sistem pendidikan Iran terguncang, namun skala penutupan kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah modern negara tersebut.
Skala Kerusakan Gedung Sekolah yang Mengkhawatirkan
Data yang dirilis Kementerian Pendidikan Iran mengungkap gambaran kerusakan yang jauh lebih serius dari yang dibayangkan publik:
- Lebih dari 640 bangunan pendidikan di 17 provinsi mengalami kerusakan akibat serangan udara AS dan Israel.
- Sekitar 250 gedung di antaranya rusak parah dan membutuhkan renovasi total sebelum bisa digunakan kembali.
- Sedikitnya 15 sekolah dilaporkan hancur total dan harus dibangun dari nol karena kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk diperbaiki.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Setiap gedung yang rusak berarti ratusan siswa kehilangan tempat belajar yang aman. Pemulihan infrastruktur pendidikan di tengah konflik aktif jelas bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam hitungan minggu.
Baca juga: Sekolah Swasta Gratis Jakarta Barat 2026 Resmi Dibuka
Iran TV School dan Platform Daring sebagai Solusi Sementara
Menghadapi krisis ini, pemerintah Iran memilih dua jalur darurat untuk menjaga roda pendidikan tetap berputar.
Pertama, platform pembelajaran daring khusus yang dikelola negara. Siswa yang memiliki perangkat dan akses internet diharapkan mengikuti kelas melalui sistem ini. Kedua, program televisi pendidikan nasional bernama “Iran TV School” yang menyiarkan mata pelajaran secara terjadwal.
Program TV ini dirancang cukup terstruktur:
- Matematika untuk kelas 7–9 disiarkan pukul 14.00
- Fisika untuk siswa kelas 12 disiarkan pukul 18.00
Siaran televisi menjadi pilihan strategis karena jangkauannya lebih luas dibanding internet, terutama di daerah-daerah yang infrastruktur digitalnya masih sangat terbatas. Namun tentu saja, pembelajaran satu arah via TV tidak bisa menggantikan interaksi dua arah di kelas.
Kesenjangan Digital yang Memperparah Krisis Pendidikan
Di balik solusi digital yang diumumkan pemerintah, ada realita yang jauh lebih kompleks di lapangan. Amir Rashidi, pakar keamanan siber dari Miaan Group, menjelaskan bahwa ketimpangan akses internet di Iran sudah menjadi masalah struktural jauh sebelum perang meletus.
“Masalahnya adalah di beberapa wilayah, seperti Sistan dan Baluchistan, hampir tidak ada koneksi internet karena kurangnya infrastruktur. Sementara, sebagian besar masyarakat mengakses internet melalui HP,” ujar Rashidi.
Situasi ini menciptakan dua kelompok siswa yang terpisah:
- Siswa di kota besar dengan perangkat dan koneksi stabil — mereka bisa mengikuti kelas daring.
- Siswa di daerah terpencil atau dari keluarga kurang mampu — mereka sangat bergantung pada siaran TV, atau bahkan tidak bisa mengakses keduanya sama sekali.
Peralihan ke intranet nasional Iran yang terpisah dari internet global juga memunculkan tantangan tersendiri. Sistem ini memang sudah lama dirancang otoritas Iran sebagai bentuk kendali digital, namun dalam konteks darurat pendidikan, keterbatasannya justru terasa semakin besar.
Respons Parlemen dan Harapan ke Depan
Di tingkat legislatif, isu pendidikan darurat ini mulai mendapat perhatian serius. Alireza Manadi Sefidan, Ketua Komite Pendidikan dan Riset Parlemen Iran, secara terbuka menyerukan perlunya investasi tambahan untuk memperkuat sistem pembelajaran jarak jauh secara nasional.
Seruan ini mengindikasikan bahwa pemerintah mulai menyadari bahwa solusi darurat seperti Iran TV School saja tidak cukup. Dibutuhkan penguatan infrastruktur yang lebih sistematis — mulai dari perluasan jaringan internet di daerah tertinggal hingga pengadaan perangkat bagi siswa yang tidak mampu.
Tantangan terbesar bukan hanya memulihkan gedung sekolah yang hancur, tapi juga memastikan tidak ada satu pun siswa yang tertinggal hanya karena tidak punya smartphone atau tidak tinggal di wilayah yang terjangkau sinyal.
Krisis pendidikan yang kini melanda Iran adalah cermin dari betapa rentannya sistem belajar suatu negara ketika berhadapan dengan konflik bersenjata. 640 gedung rusak, 15 sekolah rata dengan tanah, dan jutaan siswa yang terpaksa belajar dari layar TV — ini adalah biaya kemanusiaan yang tidak bisa dihitung semata dengan rupiah atau dolar.
Dari sudut pandang kebijakan pendidikan global, kasus Iran seharusnya menjadi pengingat keras bahwa ketahanan sistem pendidikan — termasuk infrastruktur digital yang merata — harus dibangun jauh sebelum krisis datang. Karena ketika bencana atau konflik melanda, siapa yang pertama kali terdampak selalu adalah mereka yang paling tidak punya pilihan.
FAQ
Mengapa sekolah di Iran ditutup?
Sekolah di Iran ditutup sejak 21 April 2026 atas instruksi Kementerian Pendidikan sebagai respons terhadap situasi perang yang tidak menentu. Lebih dari 640 gedung sekolah juga rusak akibat serangan udara AS dan Israel, sehingga kegiatan tatap muka tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
Bagaimana siswa Iran tetap belajar saat sekolah tutup?
Pemerintah Iran menyediakan dua alternatif: platform pembelajaran daring khusus dan program televisi pendidikan “Iran TV School” yang menyiarkan mata pelajaran inti dengan jadwal tertentu, seperti matematika kelas 7–9 pukul 14.00 dan fisika kelas 12 pukul 18.00.
Apa tantangan terbesar pembelajaran jarak jauh di Iran?
Kesenjangan digital menjadi hambatan utama. Banyak siswa di wilayah terpencil seperti Sistan dan Baluchistan tidak memiliki akses internet maupun perangkat seperti ponsel atau laptop. Mayoritas warga juga hanya bisa mengakses internet melalui ponsel, bukan komputer.
Berapa banyak sekolah yang rusak akibat perang di Iran?
Menurut Kementerian Pendidikan Iran, lebih dari 640 bangunan pendidikan di 17 provinsi mengalami kerusakan. Sekitar 250 di antaranya rusak parah dan butuh renovasi total, sementara setidaknya 15 sekolah dilaporkan hancur total dan harus dibangun ulang dari awal.





